Wednesday, September 7, 2011

Kapas

6 September 2011 / Selasa

Saya melihat jam. Sudah 23.01 malam. Belum mengantuk. Otak saya masih sibuk loncat kesana kemari. Berisik. Minta ini dan itu. Sekian keinginan yang belum bisa saya sanggupi.

Hari-hari saya masih tetap sama. Antara ketakutan dan keberanian. Antara kelelahan akan hidup dan belum mau menyerah sama nasib. Masih gundah. Masih gelisah. Belum ada yang berubah. Hanya saya merasa hidup saya itu seperti bom waktu. “Kira-kira kapan jantung saya akan meledak”. Begitu kira-kira pertanyaan saya.

Saya tahu saya tidak boleh bicara begini. Tapi ini realita. Saya sakit jantung. Jantung saya sudah dalam kondisi bengkak. Dan sudah tidak bisa diperbaiki. Saya hanya bisa ‘menjaga’ kondisinya agar tetap dalam kategori ‘aman’.

Saya nggak pesimis. Tapi realistis. Tidak tahu ini terdengar sebagai sebuah pembenaran atau apa, saya tidak terlalu peduli juga. Saya hanya sering senyum getir kalau banyak sahabat bertanya, “Apa kabar?”

Karena yang saya perhatikan orang akan dengan seketika menjawab, “Baik”. Sementara saya? Saya tidak ingin bilang saya “baik”. Karena keadaan saya tidak begitu baik. Jadi saya memilih jawaban yang berbeda, yaitu “stabil”. Biasanya yang bertanya akan mengerutkan dahi atau malah tersenyum. Lagi-lagi saya tidak begitu peduli dan saya akan melanjutkan dengan menarik bibir saya menyerupai sebuah senyum dengan mata sedikit disipitkan supaya terlihat tulus.

Saya melalui hari saya dengan penuh was-was kini.

Ya, ya, ya. Saya tahu sebaiknya saya tidak begitu. Seharusnya saya optimis, seharusnya saya semangat, seharusnya saya tetap melanjutkan hidup, seharusnya saya tetap memiliki harapan, seharusnya saya tetap berpikir positif. Dan semua kata-kata encouragement yang sudah hampir setiap hari jadi makanan saya.

Ya,ya,ya .... seharusnya saya tetap ‘hidup’. Tetap menghidupkan jiwa saya. Disisa umur ini saya harus tetap melakukan apa yang sudah menjadi tujuan hidup saya.

Saya menghempaskan diri saya. Lepas. Jauh. Hingga terasa ringan.

Kapas. Saya adalah kapas.

Melepuh karena terendam air.

Berat karena beban.

Peras kapas ini sepenuh hati.

Kandungan airnya sanggupkah kau bendung?

Tadahi aku dalam genggamanmu, hai kehidupan

Rajut lagi nasib juga takdirku

Beri aku napas berkelanjutan

No comments:

Post a Comment