Wednesday, September 14, 2011

Halo, emosi!

Beberapa hari lalu saya mendapati sebuah kebohongan. Dan tentu saja, siapa yang tidak marah. Lalu saya bilang pada diri saya sendiri, “halo, emosi. Apa kabar? Sepertinya kamu akrab sekali menghampiri saya beberapa waktu belakangan ini ya.”

Saya pikir pada saat itu, saya tidak ingin memuntahkan kemarahan saya. Tidak saat itu, tidak malam itu. Saya ingin belajar mengatasi kamu, hei marah.

Dan sekali-sekalinya dalam hidup saya, seumur hidup saya, saya malah tersenyum, bersikap biasa dan tetap menautkan lengan saya ditubuhnya dalam keadaan marah sangat.

Ada saya menangis beberapa saat. Perut saya tegang. Jantung saya berdebar keras. Tapi saya obati dengan menarik napas panjang secara teratur sambil istigfar. Saya harus bisa mengendalikan emosi ini. Karena apa yang dia lakukan kali ini fatal dan besar artinya untuk saya. Prinsip yang dilanggar. Yaitu kejujuran. Sebuah harga mati.

Saya habiskan malam itu dengan berpikir. Dan tentu saja menikmati marahnya. Lalu saya bilang ke pikiran saya, “Let go!”

Saya tidak ingin menjadi konyol hanya karena dia melakukan kesalahan dan saya termakan perasaan saya sendiri.

Tapi hal ini membuat saya jadi semakin ketat mengatur langkah dan jadi tahu apa yang saya inginkan dari kemarahan ini.

Ternyata ketika saya sudah bisa mengendalikan kamu hei, marah. Saya merasa menang atas kamu satu langkah. Kamu membuat saya bisa berpikir lebih matang daripada sebelumnya, karena proses ‘berdebar-debar’ itu berhasil saya lewati. Saya lebih waras.

Saya merasa bisa mempertanggung jawabkan kualitas dari pilihan terakhir saya.

Kamu boleh datang lagi, marah. Tapi mungkin saya bisa bilang, kali ini saya yang akan mengontrol kamu. Bukan kamu yang mengontrol saya.

Pasti ada jalan keluar untuk kita berdua bukan?

Salam damai!

12 September 2011 / Senin

Lihat jam, sudah jam 23.07 malam. Tapi belum ingin tidur. Dan jadilah tulisan ini. Bagaimana dengan kamu? Bagaimana cara kamu mengendalikan si marah?

No comments:

Post a Comment