Dua
bulan ini saya masih bersikeras tidak ingin ingat dia. Menutup semua folder
foto dia di eksternal disk. Meredam semua kesedihan saya dengan mengalihkan ke
hal-hal yang bisa saya lakukan sambil tertawa-tawa. Menghapus semua ingatan
saya tentang dia. Seseorang yang sudah pergi ke alam lain. Namun, ternyata dia
masih sibuk berkeliaran disana sini, masih sibuk menjejali saya dengan setiap
kenangan yang mampir dalam kehidupan kami, foto-foto yang berbicara. Kadang saya
tidak sanggup menahan air mata yang tahu-tahu sudah jatuh. Luruh. Membasahi
wajah saya.
Saat
yang paling tersiksa adalah kalau tengah malam saya terbangun, orang pertama
yang saya ingat adalah dia. Pertanyaan seperti, “Apa kabarnya dia disana?”
menghantui benak saya.
Saya
nggak tahu, belum tahu tepatnya, kapan saya bisa berdamai dengan fakta bahwa
sepupu kesayangan saya ini sudah pergi. Beda alam. Beda dunia. Beda bahasa. Beda
semua-semuanya. Saya nggak mau peduli lagi dengan mitos-mitos konyol soal mimpi
yang kebetulan dia datang dan memeluk saya, atau beberapa kali saya bertemu
mobil yang plat nomernya tulisan UKE. Itu hanya kebetulan. Tapi, saya
dibenturkan dengan kalimat, “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini”.
Sedih,
masih sangat. Tapi ini kan proses hidup yang harus saya lalui bukan? Kehilangan
seseorang yang begitu dekat dengan kita ternyata mampu membuat saya patah
arang. Tidak produktif. Khawatir berlebihan. Bertanya-tanya. Dan menciptakan
rasa penasaran yang luar biasa besar ingin tahu seperti apa dunia dia sekarang.
Saya
harap, dia baik-baik saja. Begitupun saya.
Saya
yakin, kenangan ini tidak akan pernah hilang dari lubuk hati dan benak saya. Bayangan
dia, percakapan kami, tawa-tawa kami, akan selalu ada di kantong-kantong
kenangan kami berdua.
Ternyata
begitu dekat dengan seseorang, masih diuji juga dengan kehilangan orang
tersebut untuk selamanya.
Jakarta,
24 Januari 2012
Di
sebuah ruang daerah H. Nawi
No comments:
Post a Comment