Monday, September 26, 2011

Dablek

Kata ibu saya, saya anak perempuan yang dablek. Susah diberitahu. Susah dinasehati. Dan tentu saja semaunya sendiri. Tentu saja. Sayapun merasakan hal yang sama. Saya hanya menjadi anak yang penurut untuk masalah pendidikan saja tapi selebihnya saya cukup pemberontak dan cukup keras juga mengatakan hal-hal yang menurut saya tidak benar. Jadi tidak jarang pula pertengkaran saya dengan ayah dan ibu menjadi sebuah drama di beberapa babak dalam hidup saya.

Saya tidak suka diatur. Apalagi untuk alasan-alasan yang tidak masuk akal. Titik.

Menjadi dablek ada untung dan ruginya juga. Karena ketika saya sudah menginginkan sesuatu, itu hukumnya KUDU buat saya. Harus saya dapatkan. Mungkin karena itu juga saya suka kompetisi. Untungnya yang caranya sehat. *pembenaran*

Ah, saya tidak suka main kotor untuk mendapatkan sesuatu.

Dan menjadi dablek juga berarti tidak menghiraukan semua tudingan, komentar, penilaian orang lain terhadap saya. Motto saya adalah, “Gue nggak minta makan sama elo. Enyahlah!” (saya tertawa geli). Biasanya saya memang maju terus pantang mundur sampai nubruk atau kejedot. Cuek lebih baik buat saya daripada saya harus ambil hati apa komentar orang tentang saya. Nggak penting.

Bicara tentang dablek, beberapa waktu lalu ibu saya menasehati saya tentang hubungan cinta saya dengan seseorang. Karena ibu saya menilai hubungan saya dengan pasangan saya itu kompleks dan membuat saya uring-uringan terus. Tidak baik untuk kesehatan, begitu kata beliau. Yang paling saya ingat betul dari nasehat beliau adalah ketika kita menghadapi pilihan yang sulit dan disatu sisi kita merasa tidak mampu untuk melepasnya pilihannya hanya dua, selesai sama sekali atau ya dablek! Selesai berarti ya tinggalkan hubungan itu untuk kebaikan bersama, atau saya harus dablek sedablek-dableknya menghadapi semua masalah yang ada sama pasangan saya. Cuek bin bebek. Positif saja melihat masalah dan percaya pasti ada solusinya. Saya tidak boleh lagi mengeluh, menangis bahkan bolak balik bilang ‘saya ingin putus’ tapi ternyata tetap balik juga ke pasangan saya. Ironis sekali kan?

Tapi saya pikir apa yang ibu saya bilang itu benar. Kalau saya memang memilih keadaan hubungan saya sekarang ya berarti saya harus terima apa adanya dengan berbesar hati. Tidak boleh menyimpan dugaan2 negatif bahkan kebencian. Saya harus hapus semua itu dan menjadi DABLEK. Cuek. Maju terus. Sampai saya bisa mengambil pembelajaran dari lakon yang sedang saya mainkan saat ini.

Sekali-sekali egois sama diri sendiri itu benar adanya. Secukupnya. Tetap waspada sama keputusan yang diambil dan berbesar hati menerima resikonya.

Saya pikir saya seorang ‘risk taker’. Saya berani dengan apa yang namanya resiko.

26 September 2011 / Senin

Saya tidak ada masalah menjadi dablek. Sama sekali tidak.

Wednesday, September 21, 2011

Semoga terkabul, amin!

Aduh. Hari ini saya mendadak lunglai. Saya patah hati. Saya ditipu. Rabu dinihari terasa begitu kelabu. Bahkan saya tidak sanggup menangis demi meringankan pilu.

Dua tidak lagi menjadi satu kini. Sekarang kami masing-masing. Terjadi sudah. Sebuah ledakan keputusan. Entah emosi atau tidak saya tidak peduli lagi. Yang saya tahu hati saya remuk berantakan, kekecewaan yang sangat. Semua kebohongan dia membuat saya ingin muntah.

Mulut saya seperti telah siap mencaci. Siap sekali!

Setan alas! Nah.

Detik ini saya berdoa, semoga satu saat dia bisa paham rasanya rasaku kini.

Semoga terkabul. Amin!


21 September 2011 / Rabu

Hari ini kamu berhasil mematahkan hati saya

Wednesday, September 14, 2011

Halo, emosi!

Beberapa hari lalu saya mendapati sebuah kebohongan. Dan tentu saja, siapa yang tidak marah. Lalu saya bilang pada diri saya sendiri, “halo, emosi. Apa kabar? Sepertinya kamu akrab sekali menghampiri saya beberapa waktu belakangan ini ya.”

Saya pikir pada saat itu, saya tidak ingin memuntahkan kemarahan saya. Tidak saat itu, tidak malam itu. Saya ingin belajar mengatasi kamu, hei marah.

Dan sekali-sekalinya dalam hidup saya, seumur hidup saya, saya malah tersenyum, bersikap biasa dan tetap menautkan lengan saya ditubuhnya dalam keadaan marah sangat.

Ada saya menangis beberapa saat. Perut saya tegang. Jantung saya berdebar keras. Tapi saya obati dengan menarik napas panjang secara teratur sambil istigfar. Saya harus bisa mengendalikan emosi ini. Karena apa yang dia lakukan kali ini fatal dan besar artinya untuk saya. Prinsip yang dilanggar. Yaitu kejujuran. Sebuah harga mati.

Saya habiskan malam itu dengan berpikir. Dan tentu saja menikmati marahnya. Lalu saya bilang ke pikiran saya, “Let go!”

Saya tidak ingin menjadi konyol hanya karena dia melakukan kesalahan dan saya termakan perasaan saya sendiri.

Tapi hal ini membuat saya jadi semakin ketat mengatur langkah dan jadi tahu apa yang saya inginkan dari kemarahan ini.

Ternyata ketika saya sudah bisa mengendalikan kamu hei, marah. Saya merasa menang atas kamu satu langkah. Kamu membuat saya bisa berpikir lebih matang daripada sebelumnya, karena proses ‘berdebar-debar’ itu berhasil saya lewati. Saya lebih waras.

Saya merasa bisa mempertanggung jawabkan kualitas dari pilihan terakhir saya.

Kamu boleh datang lagi, marah. Tapi mungkin saya bisa bilang, kali ini saya yang akan mengontrol kamu. Bukan kamu yang mengontrol saya.

Pasti ada jalan keluar untuk kita berdua bukan?

Salam damai!

12 September 2011 / Senin

Lihat jam, sudah jam 23.07 malam. Tapi belum ingin tidur. Dan jadilah tulisan ini. Bagaimana dengan kamu? Bagaimana cara kamu mengendalikan si marah?

Perhatikan mereka dan saya

Hari ini saya menghabiskan waktu di depan laptop, bekerja, main games facebook, twitteran dan yang terakhir adalah kegiatan baru, blog walking. Sore tadi berdasarkan rekomendasi teman saya, saya ‘berkunjung’ ke beberapa blog. Mampirlah saya dan mengintip apa menu yang tersaji disana. Ternyata? Banyak sekali hal baru dan pembelajaran yang saya dapatkan. Saya senang sekali.

Dari beberapa tulisan dan foto-foto yang saya nikmati di blog mereka itu memberikan semacam pencerahan buat saya. Bahwa sebenarnya banyak kok dalam hidup ini yang bisa kita cermati, nikmati, tulis, cintai, dan lain-lain. Dan saya tadi sampai berpikir, betapa tidak pekanya saya sebagai manusia? Saya kurang memakai hati saya untuk ‘melihat’ apa yang terjadi di sekeliling saya. Saya kurang menikmati hidup. Saya kurang bersyukur. Saya terlalu banyak mengeluh.

Mengapa saya tidak bisa melihat embun di daun? Mengapa saya tidak bisa menikmati duduk tenang dan berkhayal? Mengapa saya tidak bisa mencerna musik metal? Mengapa saya belum menemukan rumus teh sesuai dengan kesukaan saya? Dan mengapa-mengapa yang lain.

Makin kesini saya jadi semakin membenarkan pendapat ibu saya tentang diri saya. Beliau bilang saya itu kaku. Keras. Terlalu bertahan dengan aturan diri sendiri. Harusnya saya bisa lebih lentur pada kenyataan yang ada dalam hidup saya.

Saya kagum sekali sama orang-orang yang menulis diblog itu. Mereka bisa mencerna hidup begitu indah dan sederhana. Cara mereka mencintai kata-kata dan pemandangan yang ditangkap dengan hati itu begitu memukau saya. Semua mereka rangkum dalam satu halaman blog dan foto2 yang begitu menarik. Mereka memiliki mata khusus nampaknya.

Mengapa saya tidak bisa melakukan hal yang sama?

Menikmati hidup?

Dan mencintai diri saya sendiri. Dengan segala lebih dan kurangnya.

Saya sadar sesuatu, acceptance level saya masih rendah. Perlu saya tingkatkan.

Saya harus belajar banyak bersyukur akan hidup saya.

Sepertinya saya perlu keluar dari ‘kotak’ saya dulu dan melihat diri saya dari luar. Supaya saya bisa lebih jelas menganalisa dan kembali intropeksi diri.

Inilah adalah saat memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Saya sempat tertegun dengan beberapa kutipan mereka.

Ini saya berikan contoh:

Setia lebih dari sekedar perkawinan

Saya misterius, seperti bau hujan

Komitmen bukan untuk dipikirin, tapi untuk dijalanin

Kini saya tiba pada sebuah kesimpulan, kalau kita mau belajar peka sedikit saja dengan apa yang ada disekeliling kita, dan bersyukur atasnya, kita jadi lebih bisa menghargai hidup. Sekalipun akan suara dengung kodok disawah.

Saya ingin sekali berada dititik itu. Ingin sekali.

12 September 2011 / Senin

Tulisan ini selesai Pk. 22.31 WIB. Ditemani serentetan lagu dan sebuah kesadaran baru. Saya bersyukur untuk hari ini. Alhamdullilah.

Monday, September 12, 2011

Lagi

12 September 2011 / Senin

Saya mengeluh. Lagi. Obat yang harus saya minum ini ternyata alergi juga. Seluruh badan saya terasa gatal yang begitu menggigit. Beberapa bagian tubuh saya terasa panas. Untung saya memiliki obat herbal sebagai penawar dan juga obat alergi. Tapi obat alergi itu membuat kantuk yang membius. Saya masih ragu untuk meminumnya sekarang.

Empat macam obat yang harus saya minum. Ini obat ketiga. Berarti saya alergi dengan obat yang kedua dan ketiga. Saya jadi semakin ragu minum obat yang keempat. Apakah akan alergi juga? Semoga tidak. Karena menakutkan bagi saya, sekedar membayangkan saja, obat apa yang akan diberikan kepada saya jika percobaan minum keempat obat ini gagal karena 3 diantaranya ternyata saya alergi.

Perut saya selalu terasa tegang jika saya merasakan cemas berlebihan. Saya takut, itu benar. Saya khawatir, itu juga benar. Ternyata menjadi orang yang penyakitan itu butuh banyak sekali kesabaran. Saya harus masuk kelas sabar setiap waktunya. Tidak ada jeda atau jam istirahat. Selalu harus menghela napas dan bilang ke diri sendiri, “sabar”. Pasti akan indah pada saatnya.

Ah. Sebaiknya saya tidak bermain-main dengan pikiran saya. Apalagi pikiran negatif. Saya harus tetap optimis untuk kesembuhan saya ini. Sakit pada awalnya, mungkin. Tapi kalau sudah sehat kan saya bisa produktif lagi.

Semoga Tuhan mendengarkan doa saya.

Amin.

Wednesday, September 7, 2011

Kapas

6 September 2011 / Selasa

Saya melihat jam. Sudah 23.01 malam. Belum mengantuk. Otak saya masih sibuk loncat kesana kemari. Berisik. Minta ini dan itu. Sekian keinginan yang belum bisa saya sanggupi.

Hari-hari saya masih tetap sama. Antara ketakutan dan keberanian. Antara kelelahan akan hidup dan belum mau menyerah sama nasib. Masih gundah. Masih gelisah. Belum ada yang berubah. Hanya saya merasa hidup saya itu seperti bom waktu. “Kira-kira kapan jantung saya akan meledak”. Begitu kira-kira pertanyaan saya.

Saya tahu saya tidak boleh bicara begini. Tapi ini realita. Saya sakit jantung. Jantung saya sudah dalam kondisi bengkak. Dan sudah tidak bisa diperbaiki. Saya hanya bisa ‘menjaga’ kondisinya agar tetap dalam kategori ‘aman’.

Saya nggak pesimis. Tapi realistis. Tidak tahu ini terdengar sebagai sebuah pembenaran atau apa, saya tidak terlalu peduli juga. Saya hanya sering senyum getir kalau banyak sahabat bertanya, “Apa kabar?”

Karena yang saya perhatikan orang akan dengan seketika menjawab, “Baik”. Sementara saya? Saya tidak ingin bilang saya “baik”. Karena keadaan saya tidak begitu baik. Jadi saya memilih jawaban yang berbeda, yaitu “stabil”. Biasanya yang bertanya akan mengerutkan dahi atau malah tersenyum. Lagi-lagi saya tidak begitu peduli dan saya akan melanjutkan dengan menarik bibir saya menyerupai sebuah senyum dengan mata sedikit disipitkan supaya terlihat tulus.

Saya melalui hari saya dengan penuh was-was kini.

Ya, ya, ya. Saya tahu sebaiknya saya tidak begitu. Seharusnya saya optimis, seharusnya saya semangat, seharusnya saya tetap melanjutkan hidup, seharusnya saya tetap memiliki harapan, seharusnya saya tetap berpikir positif. Dan semua kata-kata encouragement yang sudah hampir setiap hari jadi makanan saya.

Ya,ya,ya .... seharusnya saya tetap ‘hidup’. Tetap menghidupkan jiwa saya. Disisa umur ini saya harus tetap melakukan apa yang sudah menjadi tujuan hidup saya.

Saya menghempaskan diri saya. Lepas. Jauh. Hingga terasa ringan.

Kapas. Saya adalah kapas.

Melepuh karena terendam air.

Berat karena beban.

Peras kapas ini sepenuh hati.

Kandungan airnya sanggupkah kau bendung?

Tadahi aku dalam genggamanmu, hai kehidupan

Rajut lagi nasib juga takdirku

Beri aku napas berkelanjutan