Tuesday, January 24, 2012

Sudah dua bulan



Dua bulan ini saya masih bersikeras tidak ingin ingat dia. Menutup semua folder foto dia di eksternal disk. Meredam semua kesedihan saya dengan mengalihkan ke hal-hal yang bisa saya lakukan sambil tertawa-tawa. Menghapus semua ingatan saya tentang dia. Seseorang yang sudah pergi ke alam lain. Namun, ternyata dia masih sibuk berkeliaran disana sini, masih sibuk menjejali saya dengan setiap kenangan yang mampir dalam kehidupan kami, foto-foto yang berbicara. Kadang saya tidak sanggup menahan air mata yang tahu-tahu sudah jatuh. Luruh. Membasahi wajah saya.
Saat yang paling tersiksa adalah kalau tengah malam saya terbangun, orang pertama yang saya ingat adalah dia. Pertanyaan seperti, “Apa kabarnya dia disana?” menghantui benak saya.

Saya nggak tahu, belum tahu tepatnya, kapan saya bisa berdamai dengan fakta bahwa sepupu kesayangan saya ini sudah pergi. Beda alam. Beda dunia. Beda bahasa. Beda semua-semuanya. Saya nggak mau peduli lagi dengan mitos-mitos konyol soal mimpi yang kebetulan dia datang dan memeluk saya, atau beberapa kali saya bertemu mobil yang plat nomernya tulisan UKE. Itu hanya kebetulan. Tapi, saya dibenturkan dengan kalimat, “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini”.

Sedih, masih sangat. Tapi ini kan proses hidup yang harus saya lalui bukan? Kehilangan seseorang yang begitu dekat dengan kita ternyata mampu membuat saya patah arang. Tidak produktif. Khawatir berlebihan. Bertanya-tanya. Dan menciptakan rasa penasaran yang luar biasa besar ingin tahu seperti apa dunia dia sekarang.

Saya harap, dia baik-baik saja. Begitupun saya.
Saya yakin, kenangan ini tidak akan pernah hilang dari lubuk hati dan benak saya. Bayangan dia, percakapan kami, tawa-tawa kami, akan selalu ada di kantong-kantong kenangan kami berdua.

Ternyata begitu dekat dengan seseorang, masih diuji juga dengan kehilangan orang tersebut untuk selamanya.


Jakarta, 24 Januari 2012
Di sebuah ruang daerah H. Nawi