Sunday, December 18, 2011

Masak adalah sebuah hasrat




Ternyata memasak itu memberikan perasaan khusus kepada saya. Mulai dari proses mencari resep, belanja ke tukang sayur atau swalayan, kemudian memotong-motong bahan makanan dan memasaknya menjadi sebuah hidangan yang lezat. Perasaan yang diberikan kepada saya itu fantastis. Hal baru dan menantang.

Saya bukan ‘anak dapur’ jika itu yang ingin kamu tanyakan. Saya jauh sekali dari istilah itu. Tapi karena saya sangat suka kuliner dan mencipipi masakan-masakan enak membuat saya jadi tergelitik, ada apa dibalik cita rasa ini semua?
Lalu perlahan saya mulai belajar masak.

Dan kamu tahu? Ternyata rasanya sangat menyenangkan. Kecipratan minyak panas pun menjadi sesuatu hal yang saya relakan ketika sudah mulai memasak. Ada proses ‘hening’ ketika mengiris bawang, merajang bawang bombay, mata perih, panasnya ruangan karena nyala api kompor, bau tumisan, keahlian mengira-ngira berapa banyak gula, garam, merica yang harus dituang, mengira-ngira sudah matang atau belum, rasanya membuat saya berdebar-debar. Persis seperti debar dada pada kencan pertama. Hahaha. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi percayalah, itu apa yang saya rasakan. Saya sebut itu saat ‘intropeksi diri’, karena hening dan diharuskan fokus pada bahan makanan didepan mata saya.

Ternyata dengan memasak, banyak hal yang saya pelajari. Diantaranya adalah kreatifitas karena harus bisa mengatur menu makanan setiap harinya, atau misalnya sekedar mix and match si tempe atau tahu dengan jenis sayuran lainnya. Kedua, saya belajar sabar. Sabar mengupas bawang, memotong daging, mencincang, merebus dan menanti masakan matang. Ketiga, saya belajar membahagiakan orang dengan melalui cara lain, yaitu makanan. ini adalah bagian yang paling dinanti. Rasanya nikmat sekali ketika makanan sudah tersaji di atas meja, dan memperhatikan wajah mereka yang makan masakan saya satu persatu-persatu, dan saya akan seperti anak kucing dengan wajah memelas bertanya, “Gimana rasanya? Enak nggak?” Dan saya akan tersenyum lebar ketika mereka atau pasangan saya bilang, “enak! Mantap!” Rasanya ingin guling-guling.

Sebenarnya memasak adalah salah satu cara saya untuk menggali potensi lain dari diri saya sendiri. Ternyata, saya baru tahu, saya bisa memasak dan masakan saya rata-rata enak. Bukan sombong, tapi itu yang dinyatakan oleh pasangan dan teman-teman saya.
Saya tidak ingin hidup saya monoton dan hanya menguasai satu atau dua hal saja. Saya harus belajar banyak, menguasai banyak hal meski tidak sempurna, mencoba hal-hal baru termasuk keiris pisau dan kecipratan minyak panas, tapi percayalah, semua itu sepadan ketika hasil masakan kita dibilang enak oleh yang makan.

Cari hal baru dalam dirimu. Pasti menyenangkan!

Kuricang, 17 Desember 2011
Saya takut, saya lebih berhasrat kepada sayur mayur daripada laki-laki J