Tuesday, November 22, 2011

Nasi besek


Sekitar 3 minggu yang lalu, saya ‘ngidam’ bisa makan nasi besek atau yang biasa disebut nasi berkat. Paket nasi yang tersedia ketika ada selamatan atau makanan yang sudah dibacakan doa. Entah kenapa. Saya tiba-tiba menginginkannya.

Lalu saya tulis di tweet. “Pengen nasi besek”

Lalu kamu balas, “Adanya nasi bebek”

Saya balas lagi, “Gue maunya nasi besek”

Kamu balas dengan, “Ya udah, lo suruh aja Mamet beli nasi dan lauk terus dimasukin ke kardus. Jadi deh nasi besek”

Dan saya tertawa. Saya yakin kamu juga pasti tertawa disana, di kamar kamu yang sejuk. Karena kamu sedang sakit, tidak bisa kemana-mana.

Lalu, satu minggu lalu, tanggal 17 November 2011, tepat 7 harinya kamu ‘berpulang’ selesai tahlilan, saya menerima paket nasi besek, dalam plastik hitam. Bunyi kresek-kresek plastik yang terpilin seperti pita itu membuat hati saya ciut.

Saya tersedak. Air mata saya langsung menggenang. Saya ingat perbincangan kita di twitter tempo hari.

Kenapa pada akhirnya kamu yang harus memberikan nasi besek ini ke saya?

Kenapa pada akhirnya kamu yang memenuhi keinginan saya?

Dan kenapa-kenapa lainnya.

Saya menghembuskan napas panjang.

Uke!

Kamu tahu, sepanjang perjalanan oulang saya berusaha memilih, antara ingin memakan nasi berkat itu atau akan saya puas-puaskan diri saya untuk memandangi nasi besek itu dan memenuhi benak saya dengan kenangan kita. Pembicaraan kita.

Saya kangen kamu. Sepenuh hati saya sayang kamu.

Dan saya ingin sekali bisa belajar menerima kenyataan, bahwa sejak sekarang saya harus terbiasa hidup tanpa kamu!

Nasi besek itu sudah saya makan, malam itu juga. Setelah mendapatkan nasehat kanan kiri, untuk segera dimakan, karena nasi itu sudah didoakan, ‘pemberian’ kamu.

Kamu memang selalu tahu apa yang saya inginkan ya? Meski itu hanya sekedar nasi besek sederhana.

H. Nawi

Selasa/22 November 2011

Nasi besek itu mengenyangkan perut saya. Termasuk kenangan saya akan kamu!

Dalam kenangan, R. Awwal Sugih Handika Putra [Uke]

Sepupu saya tercinta