Semalam saya tidur diantara dua bantal. Tepat ditengah-tengah. Berusaha melepaskan penat dan kesulitan untuk tidur.
Mata saya nanar menatap langit-langit kamar. Berusaha untuk mencari tahu alasan kegelisahan. Berusaha menterjemahkan kegusaran yang telah berlangsung sekian lama. Masalah perasaan.
Saya memilih untuk tidur diantara dua bantal dengan harapan benak saya tidak berat sebelah dalam memikirkan kita. Saya berharap ada solusi yang baik untuk isu kita. Baik untuk semua.
Tangan saya bentangkan ke dua sisi, kanan dan kiri. Seolah-olah saya sedang mengambang di kasur berbalutkan air. Mengambang. Dinginnya kamar, bekunya dinding, hujan di luar jendela, bunyi suara air yang jatuh ke tanah membuat kepiluan saya bertambah.
Dimana kamu saat saya butuh kamu?
Saya rindu.
Kepala saya berada di dua ujung bantal. Mungkin karena ego saya menginginkan tidak ada siapa-siapa lagi di sisi kanan dan kiri saya. Sedang ingin sendiri. Begitu tepatnya. Sedang ingin meratapi kesendirian. Mencekam sekali.
Merasa sendiri itu menakutkan sekaligus melegakan. Tidak akan ada yang menghakimi kecuali pikiranmu sendiri.
Sehingga ketika air mata saya mulai banjir turun, membasahi kedua sisi wajah saya, kemudian turun ke dua telingan saya, lalu pasti dia akan membasahi kedua sisi bantal ini.
Dimana kamu saat saya butuh kamu?
Rumah Warna
Jumat, 28 Oktober 2011
Selesai pk. 21.44 WIB
Dalam keadaan asam lambung naik.