Friday, October 28, 2011

Berada diantara dua bantal

Semalam saya tidur diantara dua bantal. Tepat ditengah-tengah. Berusaha melepaskan penat dan kesulitan untuk tidur.

Mata saya nanar menatap langit-langit kamar. Berusaha untuk mencari tahu alasan kegelisahan. Berusaha menterjemahkan kegusaran yang telah berlangsung sekian lama. Masalah perasaan.

Saya memilih untuk tidur diantara dua bantal dengan harapan benak saya tidak berat sebelah dalam memikirkan kita. Saya berharap ada solusi yang baik untuk isu kita. Baik untuk semua.

Tangan saya bentangkan ke dua sisi, kanan dan kiri. Seolah-olah saya sedang mengambang di kasur berbalutkan air. Mengambang. Dinginnya kamar, bekunya dinding, hujan di luar jendela, bunyi suara air yang jatuh ke tanah membuat kepiluan saya bertambah.

Dimana kamu saat saya butuh kamu?

Saya rindu.

Kepala saya berada di dua ujung bantal. Mungkin karena ego saya menginginkan tidak ada siapa-siapa lagi di sisi kanan dan kiri saya. Sedang ingin sendiri. Begitu tepatnya. Sedang ingin meratapi kesendirian. Mencekam sekali.

Merasa sendiri itu menakutkan sekaligus melegakan. Tidak akan ada yang menghakimi kecuali pikiranmu sendiri.

Sehingga ketika air mata saya mulai banjir turun, membasahi kedua sisi wajah saya, kemudian turun ke dua telingan saya, lalu pasti dia akan membasahi kedua sisi bantal ini.

Dimana kamu saat saya butuh kamu?

Rumah Warna

Jumat, 28 Oktober 2011

Selesai pk. 21.44 WIB

Dalam keadaan asam lambung naik.

Sunday, October 16, 2011

Kematian

Berpikir tentang kematian, membuat saya takut. Seperti apa rupanya nanti? Rasanya nanti? Rupaku nanti? Rasaku nanti.

Berpikir tentang kematian, membuat saya ingin terus bersamaan dengan kekasih saya. Tidak ingin berhenti bilang “sayang”. Saya takut tidak ada waktu banyak.

Berpikir tentang kematian, membuat saya ingin pulang dan meringkuk dalam pelukan ibunda. Apa rasanya jika aku tidak bisa merasakan keseluruhan beliau lagi?

Berpikir tentang kematian, membuat saya ingin mengumpulkan kembali koleksi foto-foto mulai saya lahir hingga detik ini saya disini. Pasti akan menjadi sebuah dokumentasi yang panjang. Karena hidup saya rumit.

Berpikir tentang kematian, membuat saya ingin berdoa banyak dan memohon sama Tuhan, “Jangan ambil saya sekarang. Karena saya belum banyak mengabdi kepadaNya dan kehidupan”

Berpikir tentang kematian, membuat saya merasakan sesak dan basah di wajah. Dimana saya harus taruh keranjang cinta dan harapan saya?

Apakah boleh saya bawa kesana Tuhan?

Saya ingin tetap merasakan kehangatan dari cinta dan harapan.

Minggu, 16 Oktober 2011

Kuricang di sore hari. Beberapa tetes air mata dan teh manis hangat.